Hakekat Filsafat
Administrasi bilamana dihubungakan dengan Kompetensi yang akan dibentuk untuk
atau pada Saudara dari Mata Kuliah Filsafat administrasi, dengan bersandarkan
kepada teori X, Y dan Z serta teori terpilih faforit yang lain
1. Hakikat
Filsafat Administrasi
Berdasarkan etimologinya, kata “filsafat”
dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani philosophia yang terdiri dari
dua kata, yaitu philein (mencintai) atau philia (cinta) atau philos (sahabat,
kekasih) dan sophia (kebijaksanaan, kearifan). Jadi, filsafat dapat diartikan
sebagai “cinta kebijaksanaan”. Orang yang mempelajari serta mendalami filsafat
disebut “filsuf”.Selain dalam bahasa Indonesia, philosophia juga diserap ke
dalam berbagai bahasa sehingga akhirnya melahirkan beragam kata, diantaranya: falsafah
dalam bahasa Arab, filosofi dalam bahasa Belanda, dan philosophy dalam bahasa
Inggris.
administrasi adalah suatu proses
yang pada umumnya terdapat pada
semua usaha kelompok Negara atau swasta, sipil atau militer, usaha yang besar atau yang kecil dan sebagainya. Sondang P. Siagian (dalam Filsafat Administrasi) berpendapat bahwa administrasi merupakan keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. pengertian administrasi dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu :
1.Pengertian administrasi dalam arti sempit
Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan penyusunan dan pencatatan data
dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta
memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. 2. Pengertian administrasi dalam arti luas
Administrasi dalam arti luas adalah kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok
orang berdasarkan pembagian kerja demi mencapai tujuan bersama.
semua usaha kelompok Negara atau swasta, sipil atau militer, usaha yang besar atau yang kecil dan sebagainya. Sondang P. Siagian (dalam Filsafat Administrasi) berpendapat bahwa administrasi merupakan keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. pengertian administrasi dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu :
1.Pengertian administrasi dalam arti sempit
Administrasi dalam arti sempit adalah kegiatan penyusunan dan pencatatan data
dan informasi secara sistematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta
memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain. 2. Pengertian administrasi dalam arti luas
Administrasi dalam arti luas adalah kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok
orang berdasarkan pembagian kerja demi mencapai tujuan bersama.
2. Kompetensi Yang Dibentuk Pada Mata Kuliah Filsafat
Administrasi
Dengan mata kuliah ini
saya dapat memahami pengertian filsafat
dan administrasi. Dengan mata kuliah ini saya dibentuk untuk menjadi pemimpin. Pemimpin mempunyai wewenang
untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain
para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan,
tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya.
Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara
pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh
sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan
kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka
tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
3. Karakter
Manusia dilihat Dari Teori X, Y, dan Z
Manusia
mempunyai tipe atau karakter yang berbeda.Di sini saya akan menjelaskan
karakter seorang pemimpin terhadap anggota dan pekerjaannya. Menurut analisis
saya jika karakter seorang pemimpin dihubungkan dengan teori X, teori Y, dan
teori Z maka akan terjadi seperti berikut;
Yang pertama, karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori X. Pemimpin pada teori X terkesan memandang segala sesuatu dari sisi negatif. Dia tidak fokus pada pekerjaan, tidak bertanggung jawab,dan tidak memiliki relasi yang baik dengan bawahannya. Tak jarang pemimpin dengan teori X ini dalam pengambilan kebijakan dan keputusan tidak tepat dan merugikan pihak lain serta dirinya sendiri, sehingga dampak dari pemimpin yang mengambil teori X ini tidak mempunyai tujuan yang baik dan benar.
Yang kedua,karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Y. Pemimpin yang karakternya bersandar pada teori Y mempunyai sifat yang bertentangan dengan teori X. Pemimpin ini mempunyai sifat yang baik, bijaksana,tanggung jawab, dan mempunyai relasi yang baik dengan bawahanya. Pemimpin ini juga bisa dikatakan pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan otoriter bijak. Setiap pengambilan keputusan berdampak baik dan mempunyai hasil yang bagus sehingga karakter pada pemimpin ini mempunyai tujuan yang pasti dan jelas demi kesejahtraan anggota dan ruang lingkup substansinya.
Yang terakhir,karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Z. Pemimpin pada teori ini terkesan tegas, namun tidak fokus pada pekerjaannya. Terkadang ia mempunyai relasi yang maik dengan bawahannya terkadang tidak karena teori ini merupakan perpaduan antara teori X dan teori Z. Dalam pengambilan keputusan juga terkadang bijaksana terkadang pula tidak bijaksana. Maka hasil dari teori kepemimpinan ini tidak mempunyai tujuan yang pasti artinya tujuan itu berhasil di capai namun terkadang pula tujuan tersebut tidak tercapai.
Yang pertama, karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori X. Pemimpin pada teori X terkesan memandang segala sesuatu dari sisi negatif. Dia tidak fokus pada pekerjaan, tidak bertanggung jawab,dan tidak memiliki relasi yang baik dengan bawahannya. Tak jarang pemimpin dengan teori X ini dalam pengambilan kebijakan dan keputusan tidak tepat dan merugikan pihak lain serta dirinya sendiri, sehingga dampak dari pemimpin yang mengambil teori X ini tidak mempunyai tujuan yang baik dan benar.
Yang kedua,karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Y. Pemimpin yang karakternya bersandar pada teori Y mempunyai sifat yang bertentangan dengan teori X. Pemimpin ini mempunyai sifat yang baik, bijaksana,tanggung jawab, dan mempunyai relasi yang baik dengan bawahanya. Pemimpin ini juga bisa dikatakan pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan otoriter bijak. Setiap pengambilan keputusan berdampak baik dan mempunyai hasil yang bagus sehingga karakter pada pemimpin ini mempunyai tujuan yang pasti dan jelas demi kesejahtraan anggota dan ruang lingkup substansinya.
Yang terakhir,karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Z. Pemimpin pada teori ini terkesan tegas, namun tidak fokus pada pekerjaannya. Terkadang ia mempunyai relasi yang maik dengan bawahannya terkadang tidak karena teori ini merupakan perpaduan antara teori X dan teori Z. Dalam pengambilan keputusan juga terkadang bijaksana terkadang pula tidak bijaksana. Maka hasil dari teori kepemimpinan ini tidak mempunyai tujuan yang pasti artinya tujuan itu berhasil di capai namun terkadang pula tujuan tersebut tidak tercapai.
Jadi
kesimpulannya seorang pemimpin seharusnya diharapkan oleh masyarakat memiliki
karakter sesuai dengan teori Y karena berdampak baik. Namun sebagai manusia
yang lemah terkadang pemimpin tergoda akan hal-hal duniawi sehingga terjebak
dengan teori X dan teori Z. Maka semua itu tergantung kembali kepada pemimpin
itu sendiri bagaimana dia mau mengimplementasikan itu semua tergantung pada
situasi dan kondisi tertentu. Pendekatan situasional berpandangan bahwa
keefektifan kepemimpinan bergantung pada kecocokan antara pribadi, tugas,
kekuasaan, sikap dan persepsi. Pendekatan ini berusaha mengenali faktor-faktro
yang paling penting dalam seperangkat situasi tertentu, dan meramalkan gaya
kepemimpinan yang paling efektif dalam situasi seperti itu. Menurut analisis
penulis, berdasarkan tiga pendekatan tersebut, ada ketidak cocokkan antara
pendekatan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam pandangan penulis
dalam mengkaji kepemimpinan harus mampu mengintegrasikan semua pendekatan
tersebut, tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya karena ketiga pendekatan
tersebut saling berkaitan.
4. Teori Pilihan “
Teknik Kepemimpinan”
“Teknik Kepemimpinan adalah suatu cara
yang merupakan pola tetap untuk mempengaruhi orang-orang agar bergerak kearah
yang diinginkan si pemimpin”. (Pamudji 2001:114). Teknik kepemimpinan dibedakan atas 3 yaitu otoriter,
demokratis, dan liberal. Berikut saya akan menjelaskan masing-masing teknik. 1. Pemerintahan otoriter adalah satu di mana kekuasaan
politik terkonsentrasi pada suatu pemimpin. Otoritarianisme biasa disebut juga
sebagai paham politik otoriter, yaitu bentuk pemerintahan yang bercirikan
penekanan kekuasaan hanya pada negara atau pribadi tertentu, tanpa melihat
derajat kebebasan.
2.Pemerintahan demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. 3. Pemerintahan Liberalisme
adalah suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan
individu dalam segala bidang. negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasankemerdekaan individu. Setiap individu harus memiliki kebebasan kemerdekaan, seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama.
individu dalam segala bidang. negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasankemerdekaan individu. Setiap individu harus memiliki kebebasan kemerdekaan, seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama.